Mati, banyak orang begitu takut dengan kata yang satu ini. Sebuah pemberhentian, titik penghujung jalan, lampu merah yang tidak akan berubah hijau lagi, lembaran terakhir sebuah buku kehidupan. Barangkali sebagian orang sebenarnya tidak takut untuk berhenti, tetapi mereka lebih takut kepada ketidaktahuannya, kepada ketidakpastiannya. Semuanya serba tidak pasti, baik 'bagaimana' atau 'kapan' nya.
Ada satu lagi kematian yang sering orang lupakan. Adalah mati dari ingatan orang lain. Menurut pandangan saya, manusia hidup di dua sisi kehidupan, yang pertama, kehidupan fisik yang kita jalani sehari-hari, dan yang kedua, kehidupan yang berjalan dalam ingatan orang lain, sebuah memori, film dokumenter yang hidup di masing-masing orang yang mengenal kita.
Manusia benar-benar mati ketika kedua kehidupannya sudah berakhir. Mati secara fisik, lalu dilupakan oleh seisi dunia. Saat satu per-satu orang yang mengenalmu mati, sebagian dari dirimu ikut terkubur bersama mereka, dan pada akhirnya, kita hilang tidak berbekas.
Sebagian kecil orang mampu bertahan 'hidup' sangat lama, bahkan mungkin layak disebut 'abadi'. Sebut saja Plato, Aristoteles, Leonardo da Vinci, Muhammad, Newton, dan tokoh penting dunia lainnya, mungkin setiap harinya mereka terus 'terlahir' kembali dalam ingatan orang di muka bumi ini. Persamaan yang dimiliki oleh manusia-manusia abadi itu adalah satu, mereka memiliki karya intelektual. Sebuah ide, tulisan, lukisan, seni, atau ajaran yang pada akhirnya disimpan oleh sejarah, diturunkan ke setiap generasi, menjadi warisan dan landasan intelektual.
Mereka hanyalah sebagian kecil, sedangkan ratusan juta yang lainnya mati tanpa bekas. Kita tidak tahu siapa teman-teman masa kecil Plato, saudara sepupunya, cinta monyetnya, dan banyak lagi. Kita bahkan tidak tahu (atau peduli) kalau-kalau mereka pernah hidup juga atau tidak.
Banyak yang berpikir bahwa hidup di dunia modern saat ini saja sudah cukup untuk membuat kita abadi. Alasannya, kita sudah banyak meninggalkan jejak digital yang secara logika harusnya bisa hidup abadi. Benarkah begitu? Bisa jadi iya bisa jadi tidak.
Pernahkah kalian mengamati akun media sosial yang pemiliknya sudah meninggal? Biasanya mereka akan ramai dikunjungi beberapa waktu setelah sang pemilik akun meninggal, tapi setelah setahun dua tahun, akun-akun ini berubah menjadi 'sampah' digital, terlupakan, dan tak pernah dikunjungi lagi. Ini adalah fakta, jejaring sosial seperti facebook benar-benar sedang mencari cara menangani kasus 'kuburan digital' ini.
See? Hidup di dunia digital tidak menjamin 'hidup' mu bakalan abadi. Jejak digital bisa jadi akan abadi apabila itu berbentuk sebuah 'karya intelektual' yang memungkinkan untuk dikunjungi orang-orang secara rutin.
Pada akhirnya, kembali lagi ke pribadi masing-masing, tentunya tidak semua orang memang berkeinginan untuk 'hidup abadi', iya kan? Memilih hidup yang 'singkat', penuh makna, dan berakhir indah juga tidak ada salahnya. Tapi, jika kamu ingin mengejar 'hidup abadi' atau sekadar ingin mengejar dahsyatnya 'amal jariyah', patut dicoba untuk mulai meninggalkan jejak-jejak intelektual kalian.
---
Tulisan ini saya tulis di tahun 2013, disunting untuk keperluan blog. Saya pilih jadi entri pertama karena menurut saya cukup ringan dan singkat sebagai sebuah pengantar blog baru. Terima kasih sudah membaca~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar