Sabtu, 16 Maret 2019

Spesialis atau Generalis?

Ada dua tipe manusia, seorang spesialis, ahli dan fokus dalam satu bidang sampai paham ke akar-akarnya, dan yang satunya lagi, seorang generalis, jack of all trades but master of none, punya banyak kemampuan, tapi tidak ada satupun yang mencapai level 'master'. Kamu masuk yang mana?

--------------------------------------------------------------
Sudah cukup banyak argumen di luar sana tentang topik ini, khususnya tentang mana di antara keduanya yang lebih baik.

Kalau bicara tentang mana yang lebih baik, tentu saja yang paling baik adalah 'King of all trades' alias ahli dalam sebuah bidang. Sayang sekali, jumlah mereka sangat sedikit sekali, satu-satunya orang yang menurut saya mendekati definisi itu adalah Leonardo daVinci, dia adalah seorang ahli dalam seni menggambar, memahat, membuat patung, melukis, arsitektur, matematika, biologi, geologi, anatomi, astronomi, literatur, musik, sejarah, dan bahkan kartografi. (Salah satu bukti bahwa dunia ini tidak adil, hahaha)



Nah, jika ternyata nama kalian bukan Leonardo da Vinci, kemungkinan besar kalian akan masuk ke dalam dua kategori sebelumnya: generalis atau specialis.

Menentukan mana yang lebih baik dari keduanya bukan hal yang mudah. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Masing-masing punya plus dan minusnya sendiri, dan keduanya sangat dibutuhkan baik di lingkungan masyarakat sekitar maupun di lingkup ruang kerja. Bahkan menurut pandangan saya, keduanya berdiri di level yang sama--tidak ada yang lebih superior antara satu sama lain. Simpelnya, dunia butuh keduanya dalam jumlah yang seimbang.

Dalam sebuah lingkup kelompok yang kecil, biasanya seorang generalis akan lebih dibutuhkan dibanding spesialis. Logikanya begini, untuk mengatasi ketimpangan antara sumber daya manusia yang terbatas dan kebutuhan yang tidak terbatas, maka dibutuhkan manusia-manusia yang punya kemampuan di banyak bidang sekaligus. Tetapi, perlu diingat, harus ada keseimbangan antara generalis dan spesialis. Seimbang tidak harus serta merta perbandingannya 50:50. Dalam kasus dimana jumlah manusianya terbatas, akan lebih baik memiliki beberapa spesialis di bidang tertentu, sedangkan sebagian besar sisanya adalah seorang generalis.

Sebaliknya, dalam sebuah lingkup kelompok yang besar, akan tidak menguntungkan apabila terdapat banyak generalis, karena akan terjadi terlalu banyak persaingan untuk mengisi bidang-bidang umum yang dikuasai oleh banyak orang. Idealnya, bidang-bidang umum itu akan diperkecil ruang lingkupnya, lalu di isi oleh banyak spesialis yang memang mumpuni di bidang tersebut. Sebagian kecil sisanya akan diisi oleh para generalis.

Lingkup kehidupan kita lebih banyak masuk ke kategori yang kedua, sehingga tidak heran kalau kita sering mendengar perkataan yang mendorong kita untuk menjadi 'unik', menjadi 'spesial' di bidang-bidang tertentu, agar kita dapat menonjol di antara para generalis. Masalahnya, semakin bertambahnya populasi manusia, mencari keahlian yang unik bukanlah hal yang mudah. Akhirnya, tercipta banyak spesialis menekuni bidang yang sama--dan persaingan antar para spesialis biasanya akan lebih brutal dibanding persaingan antar para generalis.

Di sisi lain, dalam lingkup keluarga, kita seringkali di dorong untuk menjadi lebih generalis. Misal, seorang orangtua, 'diharapkan' bisa merangkap sebagai teknisi, koki, guru, manajer, dokter, kuli, akuntan, dll dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Kehidupan rumah tangga tanpa adanya generalis akan menjadi sangat merepotkan.

Dua lingkup kehidupan di atas yang membuat saya berpikir bahwa menjadi generalis dan spesialis itu sama-sama pentingnya. Pada akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa sebenarnya kita perlu menjadi spesialis sekaligus generalis (tapi kan kita bukan leonardo da vinci, gimana sih), bukan, bukan sebagai ahli dalam semua bidang, tetapi lebih ke ahli dalam satu bidang, tetapi juga mempunyai pengetahuan yang cukup di berbagai bidang lainnya, ya setidaknya, sampai dalam level mengerti konsep/teknik dasarnya.

Istilahnya, jack of all trades and a master of ONE (or two, if you're good enough :p).

------------------------------------
Ditulis berdasar pada kesotoy-an penulis semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar